Menanti Kepulangan

Sabtu malam, 18 Maret 2017

Baru sebulan di sini tapi sudah banyak yang rindu rupanya :p

Mungkin mereka tahu kalau aku hanya punya waktu libur dan saat santai di malam ini, teman-teman di Makassar yang kutinggalkan hampir bersamaan menyapa lewat media sosial malam ini. Entah karena mereka benar-benar kangen denganku atau hanya mengisi kekosongan malam minggu mereka. *iuu

Kepergianku memang terkesan mendadak bagi mereka, kurahasiakan. Tak ada satu pun diantara mereka yang kuberi tahu, kebanyakan tahu kepergianku dari si Yas, yang mengantar kepergianku saat itu hingga bandara. Dassar dia, kepergianku hari itu bahkan sampai diumumkan di grup-grup media sosial kami. Padahal aku tak mau ada yang tahu, aku benci melihat ada drama-drama melepas kepergian.

Sehari setelah kepergianku, salah seorang teman karib menelpon, katanya banyak adik junior yang menangis karena aku pergi nggak bilang-bilang. Aduh, sekali lagi aku benci drama menangis-menangis begitu (aku juga bisa ikutan mewek. kwkwk)

***

“Kakak,”

“Kakk,”

“kak,”

“Kenapa, Din?”

“Kapan pulang? hehhe”

“2018, insyaAllah”

“Lamanyaa.”

“Yah, lumayan. Setahun saya di sini.”

Seperti biasa, si Dini yang centilnya minta ampun, chattingnya itu nggak kenal waktu, subuh-subuh, tengah malam.. ada saja yang disampaikan meski seringkali aku abaikan. Bahkan kadang kirim pesan suara dan yang parah sering malam-malam kirim lagu. Iyya, dia menyanyi sendiri, terus direkam lalu dikirimkan ke aku. Ini anak memang lucu dan unik. Suaranya memang bagus sih.

Dia juga sering curhat, entah itu mengenai keluarga, urusan penelitian dan skripsinya yang ribet bahkan sampai curhat masalah pribadinya yang lebih banyak cerita kasmarannya. hahaha. Usianya memang masih sangat muda, sikapnya juga mencerminkan itu. Masih sering bersikap ke kanak-kanakan (ke aku, nggak tau kalau ke orang lain), bicaranya ceplas-ceplos tapi lucu.

Cerita sama dia tuh nggak akan ada habisnya. Kami punya ‘kebiasaan buruk’ ketika di kampus ba’da ashar; makan bersama dengan porsi yang banyak di kantin mbak Suri langganan kami dengan terus bercerita meski mulut penuh makanan. *padahal bukan jadwal makan dan cara makan tidak sopan

Aku ingat betul makanan kesukaannya, mie goreng plus telur mata sapi dan sepiring nasi putih tentunya. Sementara aku sejak merasakan nikmatnya soto ayam racikan mbak Suri dengan porsi yang membuat sampai susah bernapas itu, aku nggak pernah ganti menu lagi. Jadi kalau aku datang mbak Suri pasti sudah tahu aku pesan apa.

Si Dini ini juga kadang jahil sama saya, ngajak makan.. eh, tau-taunya minta ditraktir. Tapi ngga apa-apa, pergi makan sama dia paling bisa hilangin stress. hahah

Malam ini dia menyapa lagi dan entah sudah berapa kali dia bertanya dengan pertanyaan yang sama;

Kapan pulang, kak?

Kemarin, 22 Maret dia sudah wisuda, sehari sebelumnya dia menyampaikan kabar itu padaku. Selamat yah dek, sampai ketemu lagi, lain kali kamu yang traktir aku soto ayam.. kan sudah sarjana :p

***

“Apa kabar?”

“Luar biasa Bro :v”

“Gimana perkembangan di sana? ada yang bening-bening?”

“hahhaha.. gak berani melirik aku Bro :v”

Bening-bening itu adalah yang kumaksud pandangan ke masa depan Bro. Sudah bening atau masih kabur target masa depan.

“insyaAllah cerah, terang benderang, Bro. Doakan saja. hahah.. kukiraa :v”

Begitulah sepenggal percakapan dengan Yuyuu, teman seperjuangan selama kuliah kemarin, sempat juga dua tahun sekamar (satu kosan maksudnya). Ah, mungkin si penggemar Kapten Amerika ini lagi rindu kebersamaan kami saat menikmati jaringan WiFi yang kencang di sebuah warkop yang menjadi tempat nongkrong kami setiap jumat atau sabtu malam. ‘Kecepatan di tangan’ – istilah kami kalau kecepatan downloadnya ngebut – adalah kebahagiaan tiada tara bagi kami. Kami biasa menghabiskan waktu hingga lewat larut malam bersama di warkop.

Ngapain aja? buanyaakk.. entah itu donlot ebook sebanyak-banyaknya atau update film terbaru terutama keluaran Marvel. Koleksi ebook yang berkaitan dengan farmasi dan update film memang hobinya dan aku ketularan. Kami juga sering membicarakan masa depan (*asseek).

Kami juga sudah merancang sebuah StartUp (bentuknya masih kami rahasiakan), dia tuh paliiing semangat, itu yang aku suka darinya. Pernah hampir semalaman penuh kami habiskan hanya untuk mendesain logo startup yang yang akan akan kami bentuk. huaamm.. semangat yang keterlaluan! Tapi sekarang rencana yang sempat kami rancang itu terhenti di tengah jalan, aku pergi dan dia masih sibuk di dunianya; organisasi kemanusian.

Sekarang dia masih menyusun proposal untuk tugas akhir. Bukan karena alasan tidak bisa, tapi karena kemauannya sendiri. katanya dia nggak mau lulus kuliah sebelum benar-benar bisa bermanfaat bagi masyarakat.  Dia adalah orang yang punya prinsip kuat, paling radikal.. pemikirannya itu looh, beda dari kebanyakan.

Pernah, bahkan sering kalau ujian, tidak cukup lima menit dia sudah mengumpul lembar jawabannya. Semua orang terbengong-bengong dibuatnya. Ketika ditanya kenapa cepat sekali selesainya, dia hanya bilang, ngapain berlama-lama kalau ngga tau apa-apa lagi. jawab yang ditahu, setelah itu sudah. yang nggak ditau diabaikan saja. hahahha.. intinya dia itu jujur banget, anti nyontek.

Kita akan berkolaborasi Bro saat aku kembali, jaga saja semangat-semangatmu. :v

***

“Kak,”

“Kakak,”

“Kak Akmal,”

“Gimana kabarnya?” (dengan dua emoticon sedih dan menangis)

Kali ini datang dari si gadis periang, hobi mendramatisir suasana, jadi aku sudah tidak mempan lagi kalau disapa seperti di atas. Dia juniorku, sempat sama-sama jadi pengurus di lembaga kemahasiswaan membuat kami dekat

“Hai, Der,”

“Kemarin demam, tapi sekrang sudah baikan. Kamu gimana kabarnya?” balasku.

“Kak, Kangen. huhu”

“jadi siapa yang rawat kamu disitu?” (dengan emoticon sedih)

“hahha.. kamu bisa saja.”

“Alhmdulillah ada, rekan belajarku di sini pada baik-baik.”

“Syukur deh,”

“wah berarti kak Jaai sudah tidak pemalu lagi, sudah ada temannya. jaga mata, jaga hati kak disana. heheh”

“iyaa, orang kesini itu buat belajar, bukan yang lain.”

“Betul itu kak :D”

“Kapan pulang kak?”

“2018, insyaAllah,” balasku singkat.

“jadi, aku harus menunggu selama itu?”

tanyanya dengan muka penuh ekspresi sedih, sama seperti saat kami masih sering bersama beberapa minggu sebelum aku pergi.

***

Yang lainnya juga begitu, semua pertanyaan hampir sama ketika menyapa lewat chating,

Z dengan kekhawatirannya yang berlebihan, sampai-sampai melarang aku jajan disini setelah dia tahu aku baru saja dirawat di rumah sakit, harus makan yang sehat-sehat dan istirahat yang cukup katanya. Duh, aku sampai geer dibuatnya. Pertanyaannya juga sama; kapan pulang? haruskah selama setahun?

si Az malah lebih lebay, katanya mau segera menjengukku di sini, sekalian jalan-jalan katanya :p aku curiga dia kangen suasana Pantai Losari ketika sore saat kami menikmati pisang epek dan sarabba. Sekarang dia tak ada teman jalan katanya, meski aku tau dia bohong, dia tuh paling gaul, masa iya nggak punya teman jalan. Dassar!

Win, Gi, Ta dan Yun nggak kalah bikin nyesek kalau menyapa, bawaannya sok sedih semua. malah sering maksa minta Video Call tapi nggak pernah aku iyakan. Biar saja kalian rindu :p

***

Ya Tuhan, terima kasih atas nikmat orang-orang hebat yang kau hadirkan dalam hidupku. Jaga dan lindungi mereka ya Allah..

*Sejujurnya, aku juga rindu mereka.

Jawa Timur,

di siang bersemangat, 23 Maret 2017

Apa komentar kamu? :D