Menyapamu dari jauh

Dik, bagaimana kabarmu di sana? Maaf karena baru sekarang aku bisa menyapamu.

Maaf juga karena tidak pernah bercerita tentang rencana kepergianku. Aku harap kamu selalu sehat, bahagia dan bersemangat. Seperti yang sering aku lihat di wajah teduhmu, dulu. Tentangku, jangan khawatir. Aku baik-baik saja di sini. Lahir batin bahkan. Alhamdulillah..

Oia, aku mulai menulis ini di saat sore mulai menyapa di sini, cuaca dingin. Baru beberapa menit yang lalu Tuhan menurunkan rahmatNya lewat hujan, baru saja jemuranku kuangkat 😀

Baiklah Dik, sekadar membayar sedikit rasa penasaran yang kau alami karena ulahku. Aku akan bercerita sedikit. Iya, untuk sekarang sedikit saja yaa.. Tentang kepergianku. Sebenarnya ada banyak yang ingin aku sampaikan kepadamu, banyak sekali. Namun sekali lagi, aku mohon maaf, aku tidak bisa mengatakannya semua sekarang.

Sekilas tentang ‘jiwa yang suram’

Dik, mungkin yang kamu tahu selama ini tentangku adalah sosok baik, religius. namun sebenarnya tidak demikian adanya Dik, keseharianku serasa suram semenjak empat tahun yang lalu, sering mengabaikan Tuhan, jauh dariNya. kesibukan dunia telah melalaikanku. Aku selalu khawatir, aku yang baik hanya ada dalam imajinasimu. Kamu perlu tahu kenyataan ini!

Aku malu padamu Dik, amat sangat malu. Aku tak lebih seperti orang yang munafik di hadapanmu.

Kamu pasti masih ingat, kan? Kemarin kamu sering menertawaiku, bahkan kadang marah karena aku sering bangun kesiangan. Itu hanya sebagian kecil hal yang menunjukkan bahwa aku begitu jauh dari perintah Tuhan dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.

Kamu juga masih ingat kan, kemarin aku begitu sering kau nasehati karena malas mengerjakan tugas, sering terlambat saat kuliah, lab tidak beres.. Aku sudah pernah memberitahumu alasan perihal itu; aku tidak punya minat sedikit pun pada jurusan yang aku jalani. Mau mundur tidak mungkin, aku sudah terlalu jauh melangkah. Sayang sekali rasanya jika aku harus mengulangnya dari awal lagi, apa kata orang tuaku, dan semua orang di kampung jika aku tak menyelesaikan kuliahku tak tepat waktu.

Tentang kedisiplinan hidup, jangan tanya padaku. Keteraturan begitu jauh. Aku sering menghabiskan waktu di depan layar laptop hingga sering lupa waktu makan. Baru ingat saat undangan ‘kampung tengah’ berteriak minta diisi. Kamu pun sering marah padaku karena hal ini.

“jangan blogging teruuss, ingat makan. jaga kesehatan!”, katamu.

Dik, aku berterima kasih padamu sudah banyak membantuku, tak perlu aku sebut satu persatu yang telah kau lakukan padaku. begitu banyak.

Ketika Harus Memilih

Dik, aku pernah membaca ungkapan; ‘jadi lelaki itu harus tegas saat dihadapkan pada dilema’ (aku lupa dimana dan kapan membacanya). Kupikir itu betul. dan ini saatnya aku tegas pada pilihan yang ada di depanku.

10 Februari 2017, Pukul 16.00 kurang beberapa menit.
Aku nyaris tak percaya, namaku tertera dalam daftar 21 orang yang lulus tahap pertama dan berhak mengikuti fase adaptasi di sana. Aku senang bukan main Dik, aku bahkan hampir berteriak keras saking bahagianya. hahah..

Namun beberapa saat setelah itu, dilema menghampiri. Aku baru ingat kalau besok harus mengikuti tes wawancara, dua hari yang lalu dapat telepon untuk mengikuti seleksi untuk bekerja di sebuah perusahaan bergerak di bidang jasa yang bekerja sama dengan kampus. Tadi, jelang siang, juga ada pesan singkat dari seorang teman yang menyarankan untuk mendaftar di sebuah BUMN, persyaratannya tidak begitu sulit kupenuhi, jika mendaftar, (bukannya sombong ya) sangat besar kemungkinan diterima, semua persyaratannya dan kriteria aku penuhi.

Tapi niat dan tekadku, aku tidak akan melewatkan kesempatan ini. Aku harus memperbaiki diri. Kota ini harus aku tinggalkan. Aku perlu suasana dan lingkungan yang baru.

“Saat di hadapkan pada banyak pilihan, piihlah yang mendekatkanmu pada Allah..” -Anonim

Pergi Untuk Kembali

Minggu, 19 Januari 2017
Aku berangkat, meninggalkan Kota Daeng dengan niat yang mantap, memperbaiki diri juga wujudkan mimpi, mencari jati diri. Tak ada yang kuberitahu perihal tujuan kepergianku Dik, selain orang tua dan keluargaku. Hanya beberapa orang yang keberitahu akan keberangkatanku, itu pun karena terpaksa. Bahkan kepada sahabat terdekatku. Jadi aku mohon, mengertilah.. jangan marah padaku ataupun berkecil hari karena menganggap diri aku abaikan. Aku akan mengatakannya nanti, tapi bukan sekarang. Okke?

Sekarang pukul 20 lebih 28 menit Waktu Indonesia Barat, sepertinya aku tak punya cukup waktu untuk menceritakan perjalananku untuk pertama kalinya ke ‘Tanah Legenda’ ini, Dik. Banyak sebenarnya cerita yang ingin aku sampaikan padamu; tentang tangis sahabat atas kepergianku, kekhawatiran keluarga, seorang lelaki paruh baya yang menjadi teman perjalananku, hingga kisah sedih (sekaligus memalukan).

Dik, aku akan segera kembali. Aku harap kamu tidak lupa dengan raut wajahku saat masa itu tiba (insyaAllah).

Untuk Dunia, Untuk Akhirat

Di sinilah aku sekarang, Dik. Di mana aku menata hidup untuk lebih baik dan berguna kelak. Aku nyaris membayangkan wajahmu tersenyum manis saat tahu bahwa aku sekarang sudah tidak bangun kesiangan lagi, tidak pernah begadang hingga larut malam lagi, shalat wajib juga sudah tepat waktu di masjid.

Di sini, bersama teman-teman di lingkungan baruku, kami hidup dengan disiplin dan sangat teratur Dik. Aku sangat menikmati rutinitasku.

Eh, hafalan Qur’anku juga nambah loh sepekan ini… alhamdulilah, doakan ya semoga istiqoma. hiihih

Sepertinya Tuhan mengabulkan doa orang tuaku, agar aku dikumpulkan besama dengan orang-orang sholeh. Dia sering mengatakan itu saat menasehatiku. Menghapus juga kekhawatirannya bahwa aku akan ikut aliran atau kelompok-kelompok sesat, sebuah kekhawatiran yang berlebihan (namanya juga orang tua.. heheh)

Oh ya Dik, guru-guru di sini sangaaat baik (semoga Allah SWT senantiasa merahmati mereka). Mengajari kami dengan perlahan, sesuai pemahaman kami, kakak-kakak angkatan sebelumnya juga begitu, tidak menunjukkan sedikitpun sikap senioritasnya. Beberapa orang sangat ramah dan nyaman ketika diajak bicara, dan beberapa yang lainnya lucu-lucu dan kocak. Mereka sangat-sangat banyak membantu saat masa adaptasi kami disini.

Pukul 20.56 WIB sekarang, aku harus mengakhiri tulisan ini Dik, ada deadline yang harus aku selesaikan. Akan aku sambung lain kali, Insya Allah.

Yang utama sebenarnya ingin aku katakan adalah;

Aku telah menemukan duniaku, Dik. Dunia yang aku impikan, dimana aku menyeimbangkan urusan dunia dan akhiratku!

Itu saja, Dik. Wassalam.

Gerimis masih mengguyur di luar sana
Rabu, 01 Maret 2017

Apa komentar kamu? :D