Saya malu menjadi mahasiswa

SAYA malu menjadi mahasiswa! Sungguh, saya tidak sedang mengada-ada. Saat ini saya malu menjadi seorang mahasiswa.


Ketika ujian, ada yang mencontek, asli dari buku atau bahkan dari teman. Tanpa sembunyi, terang-terangan! Saya jadi paham, bahwa kenapa di negeri ini banyak sekali kebobrokan, korupsi, maling, dan ketidakjujuran yang lainnya. Rupanya wajar saja, toh manusia-manusia yang mengaku sebagai orang terdidik, calon wakil suara rakyat, penerus generasi bangsa saja tidak sanggu untuk berlaku jujur dalam melaksanakan proses pendidikannya.

Sedih, marah, kecewa! Itu yang saya rasa. Saya tidaklah bermaksud untuk bersikap idealis berlebihan. Saya cuma berpikir bahwa saya dan teman-teman di kampus—dan mahasiswa-mahasiswa lain di Indonesia ini—seharusnya bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak. Walau sebenarnya saya juga tidak bisa menapikan bahwa masih ada juga mahasiswa yang jujur dan berani untuk menjadi dirinya sendiri.

Ternyata saya akhirnya tahu, saya terlalu naif! Negeri ini sudah terlalu biasa dengan ketidakjujuran, terhadap diri sendiri dan lingkungan. Tadinya saya hanya berpendapat, kita ini (kebanyakan) muslim. Sebagai pribadi, apapun yang kita lakukan, sekecil apapun akan mencerminkan ahlak kita pada umumnya. Kalau kita masih tidak bisa jujur dalam ujian kecil saja, bagaimana kelak pertanggungjawaban kita di hadapan Allah?

SATU hal yang saya pikirkan, tapi juga membuat saya geli sekaligus membuat saya sebal, saya membayangkan teman-teman saya yang  yang mengambil jurusan keguruan, kelak akan menjadi guru. Dan ketika ujian, mereka berkata kepada pada para muridnya, “Tidak boleh kerja sama! Tidak boleh mencontek! Kerjakan sendiri dengan jujur!”


Bagaimana? Apakah mereka akan membiarkan saja anak didiknya yang tidak jujur karena diapun toh “ngerasa” dulu dia pernah jadi siswa (dan atau mahasiswa) yang bersifat sama? Ah, kasihan benar negeri kita ini!

Dan untuk itu saya malu menjadi mahasiswa!

Apa komentar kamu? :D